MAKALAH ILMU SOSIAL DASAR
KEBUDAYAAN SUKU JAWA
DISUSUN OLEH :
AFFIFAH LAELY R. (30417216)
ARLINDA YULIANI (30417969)
CHRISTIAN DIMAS S. (31417348)
JONAS LODEWYK (33417073)
M. FARHAN MAKARIM (33417982)
NADYA BRILLIANTI (34417392)
MUHAMMAD LOUIS BENITO (34417109)
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
TEKNIK INDUSTRI
UNIVERSITAS GUNADARMA
DEPOK
2018
KATA PENGANTAR
Puji syukur penyusun ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat rahmatNya penyusun dapat menyelesaikan makalah yang berjudul Kebudayaan Suku Jawa. Makalah ini berisikan tentang informasi masyarakat Jawa dan kebudayaan di dalamnya. Diharapkan makalah ini dapat memberikan informasi kepada kita semua apa saja yang ada pada kebudayaan masyarakat jawa sehingga kita bisa mengetahui keunikan yang terkandung di dalam kebudayaannya dan menjadikannya berbeda dengan kebudayaan – kebudayaan lain yang tersebar di Indonesia.
Penyusun menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun selalu penyusun harapkan demi kesempurnaan makalah ini. Akhir kata, penyusun menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah berperan serta dalam penyusunan makalah ini dari awal sampai akhir.
Depok, 21 Maret 2018
Penyusun
DAFTAR ISI
Halaman Judul
Kata Pengantar 2
Bab I : Pendahuluan 3
1.1. Latar Belakang 3
1.2. Rumusan Masalah 3
1.3. Tujuan Penelitian 4
1.4. Manfaat Penelitian 4
Bab II : Landasan Teori 5
2.1. Sistem Peralatan dan Perlengkapan Hidup 5
2.2. Sistem Mata Pencaharian Hidup 5
2.3. Sistem Kemasyarakatan 6
2.4. Bahasa 6
2.5. Kesenian 6
2.6. Sistem Pengetahuan 6
2.7. Sistem Religi 6
Bab III : Pembahasan 7
3.1. Sistem Peralatan dan Perlengkapan Hidup 7
3.2. Sistem Mata Pencaharian Hidup 8
3.3. Sistem Kemasyarakatan 9
3.4. Bahasa 11
3.5. Kesenian 12
3.6. Sistem Pengetahuan 16
3.7. Sistem Religi 17
Bab IV : Penutup 20
4.1. Kesimpulan 20
4.2. Saran 20
Daftar Pustaka 20
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Indonesia adalah negeri yang sangat kaya, dengan 17.548 pulau yang membentang membuat Indonesia memiliki sumber daya alam yang begitu melimpah ruah baik dari darat maupun dari laut.
Dengan jumlah pulau yang begitu banyak yang dipisahkan dengan lautan yang begitu luas, tidak heran Indonesia juga kaya akan kebudayaan yang begitu beraneka ragam dari budaya Aceh hingga budaya Papua.
Suku Jawa, sebagai salah satu suku bangsa terbesar di Indonesia dengan jumlah mencapai hampir seratus juta, dan juga kebudayaanya yang telah lahir selama berabad-abad, memiliki kebudayaan yang begitu beraneka ragam, dan pasti membuat takjub orang yang melihatnya. dan budaya itu masih tetap lestari karena diwariskan kepada generasi selanjutnya.
Dalam makalah ini, kami akan membahas mengenai kebudayaan dalam masyarakat Jawa yang dikaji dalam 7 (tujuh) unsur kebudayaan seperti peralatan dan perlengkapan hidup, mata pencaharian hidup, sistem kemasyarakatan, bahasa, kesenian, sistem pengetahuan, dan religi.
1.2. Rumusan Masalah
Permasalahan yang akan dibahas diantaranya:
- Apakah peralatan dan perlengkapan hidup manusia yang dipakai oleh masyarakat Jawa?
- Apakah mata pencaharian hidup dan sistem ekonomi yang digunakan oleh masyarakat Jawa?
- Bagaimana sistem kemasyarakatan yang ada di masyarakat Jawa?
- Apakah Bahasa sehari-hari masyarakat Jawa?
- Apakah jenis kesenian yang berkembang di masyarakat Jawa?
- Bagaimana sistem pengetahuan yang berkembang di masyarakat Jawa?
- Apakah sistem religi yang terdapat di masyarakat Jawa?
1.3. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dalam penulisan makalah ini antara lain:
- Mengetahui peralatan dan perlengkapan hidup manusia yang dipakai oleh masyarakat Jawa.
- Mengetahui mata pencaharian hidup dan sistem ekonomi yang digunakan oleh masyarakat Jawa.
- Mengerti sistem kemasyarakatan yang ada di masyarakat Jawa.
- Mengerti Apakah Bahasa sehari-hari masyarakat Jawa.
- Mengetahui jenis kesenian yang berkembang di masyarakat Jawa.
- Mengetahui sistem pengetahuan yang berkembang di masyarakat Jawa.
- Mengetahui religi yang terdapat di masyarakat Jawa.
1.4. Manfaaat Penelitian
Manfaat yang didapatkan pada penelitian ini antara lain:
- Hasil penelitian dapat digunakan untuk menggambarkan sistem kebudayaan Suku Jawa.
- Menambah wawasan mengenai kehidupan Suku Jawa.
BAB II
LANDASAN TEORI
2.1. Sistem Peralatan dan Perlengkapan Hidup
Peralatan dan perlengkapan hidup manusia antara lain berupa pakaian, perumahan, alat-alat rumah tangga, senjata dan alat transportasi. Peralatan dan perlengkapan hidup manusia juga dipengaruhi oleh keadaan alam di mana mereka tinggal.
2.2. Sistem Mata Pencaharian Hidup
Arti sistem mata pencaharian itu sendiri, berdasarkan Kamus Umum Bahasa Indonesia edisi ketiga karangan Poerwandarminta, sistem mata pencaharian terdiri dari dua unsur kata yaitu:
● Sistem: Pengertian sistem ada tiga yaitu:
1. Sekelompok bagian (alat, dsb) yang bekerja bersama-sama untuk melakukan sesuatu ; -urat saraf dalam tubuh-pemerintahan,
2. Sekelompok dari pendapatan, peristiwa, kepercayaan,dsb. Yang disusun dan diatur baik-baik-filsafat
3. Cara (metode) yang teratur untuk melakukan sesuatu;-pengajaran bahasa.
● Mata Pencaharian: Berarti, pekerjaan yang menjadi pokok penghidupan (sumbu atau pokok), pekerjaan/pencaharian utama yang dikerjakan untuk biaya sehari-hari. Misalnya; pencaharian penduduk desa itu bertani. “Dengan kata lain sistem mata pencaharian adalah cara yang dilakukan oleh sekelompok orang sebagai kegiatan sehari-hari guna usaha pemenuhan kehidupan, dan menjadi pokok penghidupan baginya”.
2.3. Sistem Kemasyarakatan
Sistem kemasyarakatan maksudnya adalah pengelompokan orang-orang dalam suatu masyarakat dan hubungan antara individu baik dalam kelompok yang sama maupun antara kelompok yang berbeda.
2.4. Bahasa
Bahasa (dari bahasa Sanskerta भाषा, bhāṣā) adalah kemampuan yang dimiliki manusia untuk berkomunikasi dengan manusia lainnya menggunakan tanda, misalnya kata dan gerakan.
2.5. Kesenian
Kesenian adalah bagian dari budaya dan merupakan sarana yang digunakan untuk mengekspresikan rasa keindahan dari dalam jiwa manusia. Secara umum, kesenian dapat mempererat ikatan solidaritas suatu masyarakat.
2.6. Sistem Pengetahuan
Seperangkat unsur yang diketahui atau suatu kepandaian yang dimiliki dari pengalaman maupun melalui belajar.
2.7. Sistem Religi
Sistem religi mengatur hubungan antara manusia dengan Tuhan dan dunia gaib, antara sesama manusia dan antara manusia dengan lingkungannya yang dijiwai oleh suasana yang dirasakan sebagai suasana kekerabatan oleh yang menganutnya
BAB III
PEMBAHASAN
Berbicara mengenai suku Jawa, yang merupakan suku bangsa terbesar di Indonesia. Di tahun 2004 saja, telah tercatat lebih dari 90 juta lebih orang yang bersuku bangsa Jawa. Beberapa orang pasti menyangka bahwa yang dimaksud dengan suku Jawa adalah orang-orang yang lahir, mendiami daerah wilayah Jawa Tengah dan menggunakan bahasa ibu bahasa Jawa. Padahal, daerah kebudayaan Jawa itu luas, meliputi seluruh bagian tengah dan timur dari pulau Jawa. walaupun pada kenyataanya, tetap saja tampak perbedaan karakteristik antara orang-orang yang mendiami daerah Jawa Tengah dan Yogyakarta, dengan orang-orang yang mendiami daerah Jawa Timur. Selain suku bangsa Jawa, ada juga subsuku dari suku bangsa ini, yaitu suku osing dan suku tengger.
Di kalangan masyarakat, tercipta stereotip tentang perangai orang Jawa yang begitu halus, sopan dan pasrah menjalani hidup atau nrimo, Sifat ini konon berdasarkan watak orang Jawa yang berusaha untuk menjaga harmoni atau keserasian juga menghindari konflik. Mereka cenderung diam dan tidak banyak berkomentar untuk menghindari konflik.
Sistem kekerabatan yang digunakan oleh orang Jawa pada umumnya adalah Patrilineal, atau menggunakan garis keturunan dari pihak ayah. Hal ini sama seperti kebanyakan suku di Indonesia, seperti suku Batak.
3.1. Sistem Peralatan dan Perlengkapan Hidup
Sebagai suatu kebudayaan, suku Jawa tentu memiliki peralatan dan perlengkapan hidup yang khas diantaranya yang paling menonjol adalah dalam segi bangunan. Masyarakat yang bertempat tinggal di daerah Jawa memiliki ciri sendiri dalam bangunan mereka, khususnya rumah tinggal. Ada beberapa jenis rumah yang dikenal oleh masyarakat suku Jawa, diantaranya adalah rumah limasan, rumah joglo, dan rumah serotong. Rumah limasan, adalah rumah yang paling umum ditemui di daerah Jawa, karena rumah ini merupakan rumah yang dihunu oleh golongan rakyat jelata. Sedangkan rumah Joglo, umumnya dimiliki sebagai tempat tinggal para kaum bangsawan, misalnya saja para kerabat keraton. Umumnya rumah di daerah Jawa menggunakan bahan batang bambu, glugu (batang pohon nyiur), dan kayu jati sebagai kerangka atau pondasi rumah. Sedangkan untuk dindingnya, umum digunakan gedek atau anyaman dari bilik bambu, walaupun sekarang, seiring dengan perkembangan zaman, banyak juga yang telah menggunakan dinding dari tembok. Atap pada umumnya terbuat dari anyaman kelapa kering (blarak) dan banyak juga yang menggunakan genting. Dalam sektor pertanian, alat-alat pertanian diantantaranya: bajak (luku), grosok, bakul besar tenggok, garu.
3.2. Sistem Mata Pencaharian Hidup
Tidak ada mata pencaharian yang khas yang dilakoni oleh masyarakat suku Jawa. pada umumnya, orang-orang disana bekerja pada segala bidang, terutama administrasi negara dan kemiliteran yang memang didominasi oleh orang Jawa. selain itu, mereka bekerja pada sektor pelayanan umum, pertukangan, perdagangan dan pertanian dan perkebunan. Sektor pertanian dan perkebunan, mungkin salah satu yang paling menonjol dibandingkan mata pencaharian lain, karena seperti yang kita tahu, baik Jawa Tengah dan Jawa Timur banyak lahan-lahan pertanian yang beberapa cukup dikenal, karena memegang peranan besar dalam memasok kebutuhan nasional, seperti padi, tebu, dan kapas.
Tetapi orang Jawa juga terkenal tidak memiliki bakat yang menonjol dalam bidang industri dan bisnis seperti halnya keturunan etnis tionghoa. Hal ini dapat terlihat, bahwa pemilik industri berskala besar di Indonesia, kebanyakan dimiliki dan dikelola oleh etnis tionghoa.
3.3. Sistem Kemasyarakatan
Dalam sistem kemasyarakatan, akan dibahas mengenai pelapisan sosial. Dalam sistem kemasyarakatan Jawa, dikenal 4 tingkatan yaitu Priyayi, Ningrat atau Bendara, Santri dan Wong Cilik. Priyayi ini sendiri konon berasal dari dua kata bahas Jawa, yaitu “para” dan “yayi” atau yang berarti para adik. Dalam istilah kebudayaan Jawa, istilah priyayi ini mengacu kepada suatu kelas sosial tertinggi di kalangan masyarakat biasa setelah Bendara atau ningrat karena memiliki status sosial yang cukup tinggi di masyarakat. Biasanya kaum priyayi ini terdiri dari para pegawai negeri sipil dan para kaum terpelajar yang memiliki tingkatan pendidikan yang lebih tinggi dibandingkan dengan orang-orang disekitarnya. Ningrat atau Bendara adalah kelas tertinggi dalam masyarakat Jawa. pada tingkatan ini biasanya diisi oleh para anggota keraton, atau kerabat-kerabatnya, baik yang memiliki hubungan darah langsung, maupun yang berkerabat akibat pernikahan. Bendara pu memiliki banyak tingkatan juga di dalamnya, mulai dari yang tertinggi, sampai yang terendah. Hal ini dapat dengan mudah dilihat dari gelar yang ada di depan nama seorang bangsawan tersebut.
Yang ketiga golongan santri. Golongan ini tidak merujuk kepada seluruh masyarakat suku Jawa yang beragama muslim, tetapi, lebih mengacu kepada para muslim yang dekat dengan agama, yaitu para santri yang belajar di pondok-pondok yang memang banyak tersebar di seluruh daerah Jawa.
Terakhir, adalah wong cilik atau golongan masyarakat biasa yang memiliki kasta terendah dalam pelapisan sosial. Biasanya golongan masyarakat ini hidup di desa-desa dan bekerja sebagai petani atau buruh. Golongan wong cilik pun dibagi lagi menjadi beberapa golongan kecil lain yaitu:
● Wong Baku : golongan ini adalah golongan tertinggi dalam golongan wong cilik, biasanya mereka adalah orang-orang yang pertama mendiami suatu desa, dan memiliki sawah, rumah, dan juga pekarangan.
● Kuli Gandok atau Lindung : masuk di dalam golongan ini adalah para lelaki yang telah menikah, namun tidak memiliki tempat tinggal sendiri, sehingga ikut menetap di tempat tinggal mertua.
● Joko, Sinoman, atau Bujangan : di dalam golongan ini adalah semua laki-laki yang belum menikah dan masih tinggal bersama orang tua, atau tinggal bersama orang lain. Namun, mereka masih dapat memiliki tanah pertanian dengan cara pembelian atau tanah warisan.
Pembagian sosial masyarakat bukan hanya terbagi oleh sistem kebudayaan seperti yang kami tuturkan diatas saja. Pada tahun 1960-an, seorang antropolog amerika Cliford Geertz pun mengemukakan pelapisan sosial masyarakat terbagi menjadi tiga yaitu, santri, abangan, dan priyayi. Yang membedakan kaum santri dengan kaum abangan (walaupun mereka sama-sama seorang muslim) adalah, jika santri adalah para orang Jawa yang dididik dengan dasar agama islam yang kuat (karena banyaknya pondok pesantren yang berdiri di Jawa). sedangkan kaum abangan, walaupun dalam pendataan mereka menganut kepercayaan sebagai muslim, namun dalam implementasi sehari-hari mereka lebih mengamalkan ajaran kepercayaan asli yang berkembang di Jawa, yaitu kejawen. Selain pelapisan sosial masyarakat, dalam sistem kemasyarakatan ini kami akan membahas tentang bentuk desa sebagai kesatuan masyarakat terkecil setelah rt dan rw yang umum ditemui di masyarakat Jawa. Desa-desa di Jawa umumnya dibagi-bagi menjadi bagian-bagian kecil yang disebut dengan dukuh, dan setiap dukuh dipimpin oleh kepala dukuh. Di dalam melakukan tugasnya sehari-hari, para pemimpin desa ini dibantu oleh para pembantu-pembantunya yang disebut dengan nama Pamong Desa. Masing-masing pamong desa memiliki tugas dan perananya masing-masing. Ada yang bertugas menjaga dan memelihara keamanan dan ketertiban desa, sampai dengan mengurus masalah perairan bagi lahan pertanian warga.
3.4. Bahasa
Bahasa Jawa, sebagai bahasa ibu dan bahasa pergaulan sehari-hari masyarakat suku Jawa, ternyata di dalamnya pun dikenal berbagai macam tingkatan dan undhak-undhuk basa. Sesuatu yang sebenarnya tidak terlalu asing, mengingat beberapa bahas lain yang berada dalam rumpun austronesia pun dikenal undhak-undhuk dalam berbahasa. Terdapat tiga bentuk utama tingkatan variasi bahasa Jawa, yaitu ngoko (“kasar”), madya (“biasa”), dan krama (“halus”). Namun , pada tingkat yang lebih spesifik lagi, terdapat 7 (tujuh) tingkatan dalam berbahasa Jawa, diantaranya: ngoko, ngoko andhap, madhya, madhyantara, kromo, kromo inggil, bagongan, kedhaton. Di antara masing-masing bentuk ini terdapat bentuk “penghormatan” (ngajengake, honorific) dan “perendahan” (ngasorake, humilific). Seseorang dapat berubah-ubah registernya pada suatu saat tergantung status yang bersangkutan dan lawan bicara. Status bisa ditentukan oleh usia, posisi sosial, atau hal-hal lain. Seorang anak yang bercakap-cakap dengan sebayanya akan berbicara dengan varian ngoko, namun ketika bercakap dengan orang tuanya akan menggunakan krama andhap dan krama inggil. Sistem semacam ini terutama dipakai di Surakarta, Yogyakarta, dan Madiun. Dialek lainnya cenderung kurang memegang erat tata-tertib berbahasa semacam ini. Selain undhak-undhuk atau tingkatan bahasa, dikenal juga dialek yang berbeda-beda diantara orang-orang Jawa itu sendiri. Dalam hal ini, perbedaan dialek, dibagi menjadi 3 daerah, yaitu kelompok barat, tengah dan timur. Kelompok barat terdiri dari dialek Banten, Cirebon, Tegal, Banymas, dan Bumiayu. Kelompok tengah terdiri dari Pekalongan, kedu, bagelen, Semarang, Pantai Utara Timur (jepara,Demak, Rembang, Kudus, Pati), Blora, Surakarta, Yogyakarta, Madiun. Sedangkan, Kelompok dialek timur terdiri dari Pantura Timur (Tuban, dan Bojonegoro), Surabaya, Malang, Jombang, Tengger, Banyuwangi. Selain memiliki bahasa tersendiri, masyarakat suku Jawa pun memiliki huruf tersendiri yang pada umunya mereka gunakan dalam kehidupan sehari-hari.
3.5. Kesenian
Kesenian yang terdapat dalam kebudayaan Jawa sangat beraneka ragam, mulai dari tari-tarian, lagu daerah, wayang orang, dan juga wayang kulit, serta masih ada berbagai macam kesenian lainnya.
- Tari-Tarian
Dalam bahasa Jawa, tari disebut dengan kata beksa yang berasal dari kata “ambeg” dan “esa” kata tersembunyi mempunyai maksud dan pengertian bahwa orang yang akan menari haruslah benar-benar menuju satu tujuan, yaitu menyerahkan seluruh jiwanya pada tarian.
Seni tari di daerah Jawa sendiri mengalami kejayaan pada masa kerajaan Kediri, singasari, dan majapahit. Pada masa sekarang ini, kota Surakarta di anggap sebagai pusat seni tari, terutama di Keraton Surakarta dan Pura Mangkunegaran. Seni tari dapat dibedakan menjadi tiga jenis, yaitu:
● Tari Klasik
● Tari Tradisional
● Tari Garapan Baru
Beberapa contoh tarian sebagai bagian dari kebudayaan suku Jawa antara lain:
1. Tari Bedhaya. Tari Bedhaya Ketawang ini dipercaya diciptakan oleh Sultan Agung, raja pertama dari kerajaan Mataram, dan disempurnakan oleh Sunan Kalijaga. Tari Bedhaya Ketawang ini, tidak hanya di tampilkan pada saat penobatan raja yang baru, tetapi juga tiap tahunnya, yang bertepatan dengan hari penobatan raja atau ratu. Pada pementasan tari Bedhaya Ketawang, digunakan kostum Dodot Ageng dengan motif Banguntulak alas-alasan. Dari segi alat music pengiringpun sangat special, karena digunakan yaitu gamelan Kyai Kaduk Manis dan Kyai Manis Renggo. Pada zaman sri Susuhunan PakuBuwono XII, pertunjukan tari Bedhaya Ketawang, selalu diselenggarakan pada hari kedua bulan Reuwah atau bulan Syaban dalam kalender Jawa.
2. Tari Srimpi. Tarian ini tidak diketahui dengan pasti sejak kapan muncul di lingkungan kraton. Tetapi diperkirakan mulai ada saat Prabu Amiluhur masuk ke kraton. Tarian ini dipentaskan oleh empat orang putrid yang melambangkan empat unsure, dan empat penjuru mata angin. Dari beberapa jenis tari Srimpi, ada satu yang dianggap sacral atau suci, yaitu tari Srimpi Anghlir Mendhung.
3. Tari Pethilan. Tari Pethilan adalah suatu tarian yang gerakannya terinspirasi atau mengambil salah satu bagian dari cerita pewayangan. Dalam pementasannya, tarian ini boleh memiliki gerakan yang sama atau tidak antar penarinya, boleh menggunakan ontowacono atau dialog dalam tariannya, pakaian yang digunakan tidak sama setiap penarinya, kecuali yang memerankan lakon kembar. Dalam kisah yang termuat dalam tarian pun, ada peran yang mati dan yang tetap bertahan hidup.
4. Tari Golek. Tari ini berasalah dari Yogyakarta, dan pertama kali dipentaskan pada perayaan pernikahan KGPH Kusumoyudho dan Gusti Ratu Angger di tahun 1910. Tarian ini menggambarkan cara-cara berhias diri seorang gadis yang baru memasuki masa dewasanya, agar terlihat lebih cantik dan menarik.
5. Tari Bondan. Tari Bondan memiliki tiga jenis, yaitu Bonda Cindogo, Bondan marsidiwi, dan Bondan Pegunungan atau Tani. Tari Bondan Cindogo dan Marsidiwi, merupakan tarian gembira, dibuat untuk mengungkapkan kegembiraan atas kelahiran anak.
6. Tari Topeng. Tarian ini sebenarnya secara tidak langsung diilhami oleh wayang wong, atau wayang orang. Tarian ini sempat mengalami kejayaan pada masa kerajaan majapahit. Lalu pada masa masuknya islam, sunan kaliga menggunakannya sebagai media penyebaran islam. Beliau juga lah yang menciptakan 9 jenis tari topeng diantaranya : Topeng Panji Ksatrian, Confrokirono, Gunung sari, Handako, Raton, Klono, Denowo, Benco, dan Turas. Tari topeng dianggap sebagai perlambang sifat manusia, karena banyaknya model topeng yang menggambarkan emosi manusia yaitu, merah, sedih, kecewa, dll. Biasanya cerita yang diangkat dalam tari topeng adalah bagian dari hikayat atau cerita rakyat, terutama cerita-cerita panji.
7. Tari Dolalak. Tarian ini dipentaskan oleh beberapa penari yang mengenakan kostum ala prajurit Belanda atau Prancis tempo dulu, dan diiringi oleh alat music seperti kentrung, rebana, kendang, kencer, dll. Menurut legenda, tarian ini terinspirasi dari semangat perjuangan perang rakyat aceh yang kemudian meluas ke daerah lain di nusantara.
Kedua, adalah berbagai macam kesenian rakyat yang dikenal di masyarakat Jawa, baik jawa Tengah maupun Jawa Timur. Patolan atau prisenan yang dikenal di daerah rembang, Jawa Tengah. Kesenian ini adalah semacam olahraga gulat rakyat, dan dipimpin oleh dua orang waist dari masing-masing pihak. Olahraga yang juga hiburan ini biasanya dimainkan di tempat berpasir seperti di pinggir pantai. Daerah blora dikenal memiliki kessenian barongan, kuda kepang, dan wayang krucil (sejenis wayang kulit, namun terbuat dari kayu). Di daerah pekalongan, dikenal kesenian kuntulan dan sintren. Kuntulan adalah kesenian bela diri yang dilukiskan dengan tarian dengan iringan bunyi-bunyian seperti bedug, dll. Sedangkan sintren, yang juga dikenal luas di Cirebon, adalah sebuah tarian yang dipenuhi dengan unsur mistis. Dimana sang penari melakukan gerakan tarian dalam keadaan tidak sadar. Pertunjukan sintren biasanya dipentaskan pada saat bulan purnama setelah panen. Lengger calung, adalah kesenian tradisional yang berasal dari daerah banyumas. Tarian ini dari lengger (penari) dan calung (alat music bamboo). Gerakan tariannya sangat dinamis danlincah mengikuti irama dari calung. Beberapa gerakan khas dari tarian lengger adalah geyol, gedhag, dan lempar sampur. Dahulu penari lengger adalah para pria yang berdandan seperti wanita, namun sekarang para pria tersebut hanyalah sebagai pelengkap tarian saja. Selain kesenian tarian, suku Jawa juga memiliki kesenian lain seperti seni musik, baik berbentuk alat music khas daerah, maupun berbentuk lagu-lagu daerah. Alat musik yang khas, dan tentu saja paling terkenal dari Jawa adalah gamelan Jawa. Gamelan Jawa ini memiliki bentuk gamelan yang berbeda dengan Gamelan Bali ataupun Gamelan Sunda. Gamelan Jawa memiliki nada yang lebih lembut dan slow, berbeda dengan Gamelan Bali yang rancak dan Gamelan Sunda yang sangat mendayu-dayu dan di dominasi suara seruling. Perbedaan itu wajar, karena Jawa memiliki pandangan hidup tersendiri yang diungkapkan dalam irama muisik gamelannya. Satu set gamelan biasanya terdiri dari Kendang, Saron, Bonang, Slentem, Gambang,Gong, Kempul, Kenong, Ketug, Clempung, Keprak, dan Bedug. Gamelan Jawa sendiri memiliki dua jenis yaitu :
- Gamelan Salendro, biasa digunakan untuk mengiringi pertunjukan wayang, tari, kliningan, jaipingan dan lain-lain.
- Gamelan Pelog, fungsinya hamper sama dengan gamelan salendro, hanya kurang begitu berkembang dan kurang akrab di masyarakat dan jarang dimiliki oleh grup-grup kesenian di masyarakat.
Alat musik khas daerah Jawa berikutnya dalah Jula-Juli. Jula-Juli adalah salah satu gendhing khas dari Jawa Timur, dan sangat lazim digunakan untuk mengiringi Ludruk dan tari Remo. Sedangkan bentuk kesenian seni musik yang berupa lagu-lagu daerah dari jawa antara lain : Bapak Pucung, Cublak-Cublak Sewung, Gambang Suling, Gai Bintang, Gek Kepriye, Gundul-Gundul Pacul, Lir-ilir, jamuran, Kembang Malathe, Karapan Sape.
3.6. Sistem Pengetahuan
Salah satu bentuk sistem pengetahuan yang ada, berkembang, dan masih ada hingga saat ini, adalah bentuk penanggalan atau kalender. Bentuk kalender Jawa adalah salah satu bentuk pengetahuan yang maju dan unik yang berhasil diciptakan oleh para masyarakat Jawa kuno, karena penciptaanya yang terpengaruh unsur budaya islam, Hindu-Budha, Jawa Kuno, dan bahkan sedikit budaya barat. Namun tetap dipertahankan penggunaanya hingga saat ini, walaupun penggunaanya yang cukup rumit, tetapi kalender Jawa lebih lengkap dalam menggambarkan penanggalan, karena didalamnya berpadu dua sistem penanggalan, baik penanggalan berdasarkan sistem matahari (sonar/syamsiah) dan juga penanggalan berdasarkan perputaran bulan (lunar/komariah). Pada sistem kalender Jawa, terdapat dua siklus hari yaitu siklus 7 hari seperti yang kita kenal saat ini, dan sistem panacawara yang mengenal 5 hari pasaran. Sejarah penggunaan kalender Jawa baru ini, dimulai pada tahun 1625, dimana pada saat itu, sultan agung, raja kerajaan mataram, yang sedang berusaha menyebarkan agama islam di pulau Jawa, mengeluarkan dekrit agar wilayah kekuasaanya menggunakan sistem kalender hijriah, namun angka tahun hijriah tidak digunakan demi asas kesinambungan. Sehingga pada saat itu adalah tahun 1025 hijriah, namun tetap menggunakan tahun saka, yaitu tahun 1547. Dalam sistem kalender Jawa juga terdapat dua versi nama-nama bulan, yaitu nama bulan dalam kalender Jawa matahari, dan kalender Jawa bulan. Nama- nama bulan dalam sistem kalender Jawa komariah (bulan) diantaranya adalah suro, sapar, mulud, bakdamulud, jumadilawal, jumadil akhir, rejeb, ruwah, poso, sawal, sela, dan dulkijah. Namun, pada tahun 1855 M, karena sistem penanggalan komariah dianggap tidak cocok dijadikan patokan petani dalam menentukan masa bercocok tanam, maka Sri Paduka Mangkunegaran IV mengesahkan sistem kalender berdasarkan sistem matahari. Dalam kalender matahari pun terdapat dua belas bulan.
3.7. Sistem Religi
Orang-orang Islam kejawen percaya kepada keimanan Islam walaupun tidak menjalankan ibadahnya, mereka menyebut Tuhan adalah gusti Allah dan menyebut Nabi Muhammad dengan kanjeng nabi. Kecuali itu, orang islam kejawen tidak terhindar dari kewajiban berzakat. Kebanyakan orang Jawa percaya bahwa hidup manusia di dunia ini sudah diatur dalam alam semesta sehingga ada yang bersikap nerima, yaitu menyerahkan diri pada takdir. Bersamaan dengan pandangan tersebut, orang Jawa percaya kepada suatu kekuatan yang melebihi dari segala kekuatan dimana saja yang pernah dikenal, yaitu kesaktian atau kasakten yang terdapat pada benda-benda pusaka, seperti : keris, gamelan, dan lain-lain. Mereka juga mempercayai keberadaan arwah atau roh leluhur, dan makhluk-makhluk halus, seperti memedi, lelembut, tuyul, demit, serta ijin yang menempati alam sekitar tempat tinggal mereka. Menurut kepercayaan, makhluk halus tersebut dapat mendatangkan kesuksesan, kebahagiaan ketentraman, atau keselamatan. Tetapi sebaliknya ada juga makhluk halus yang dapat menimbulkan ketakutan atau kematian. Bilamana seseorang ingin hidup tanpa menderita gangguan itu ia harus berbuat sesuatu untuk mempengaruhi alam semesta dengan cara, misalnya berprihatin, berpuasa, berpantang melakukan sesuatu perbuatan, serta makan-makanan tertentu, berkeselamatan dan sesaji. Selamatan dan bersesaji seringkali dijalankan oleh masyarakat Jawa di desa-desa pada waktu tertentu. Selamatan erat kaitannya dengan kepercayaan terhadap unsur-unsur kekuatan sakti maupun makhlus halus. Umumnya selamatan ditujukan untuk memperoleh keselamatan hidup dengan tidak ada gangguan-gangguan apa pun. Selamatan adalah suatu upacara makan bersama atas makanan yang telah diberi doa sebelum dibagi-bagikan. Sesuai dengan peristiwa atau kejadian dalam kehidupan sehari-hari upacara selamatan dapat digolongkan ke dalam empat macam seperti berikut.
● Selamatan dalam rangka lingkaran hidup seseorang. Jenis selamatan ini meliputi : hamil tujuh bulan, kelahiran, potong rambut pertama, menyentuh tanah untuk pertama kali, menusuk telinga, sunat, kematian, peringatan serta saat-saat kematian.
● Selamatan yang bertalian dengan bersih desa. Jenis selamatan ini meliputi upacara sebelum penggarapan tanah pertanian, dan setelah panen padi.
● Selamatan yang berhubungan dengan hari-hari serta bulan-bulan besar Islam.
● Selamatan yang berkaitan dengan peristiwa khusus. Jenis selamatan ini meliputi: perjalanan jauh, menempati rumah baru, menolak bahaya (ngruwat), janji kalau sembuh dari sakit (kaul), dan lain-lain. Di antara jenis-jenis selamatan tersebut, selamatan yang berhubungan dengan kematian sangat diperhatikan dan selalu dilakukan. Hal ini dilakukan untuk menghormati arwah orang yang meninggal. Jenis selamatan untuk menolong arwah orang di alam baka ini, berupa :
- Surtanah atau geblak, yaitu selamatan pada saat meninggalnya seseorang.
- Nelung dina, yaitu selamatan hari ketiga sesudah meninggalnya seseorang.
- Mitung dina, yaitu selamatan hari ketujuh sesudah meninggalnya seseorang.
- Matang puluh dina, yaitu selamatan hari ke 40 sesudah meninggalnya seseorang.
- Nyatus, yaitu selamatan hari ke 100 meninggalnya seseorang.
- Mendak sepisan, yaitu selamatan satu tahun meninggalnya seseorang.
- Mendak pindo, yaitu selamatan dua tahun meninggalnya seseorang.
- Nyewu, yaitu selamatan genap 1000 hari meninggalnya seseorang. Selamatan ini kadang-kadang disebut juga nguwis-nguwisi, artinya yang terakhir kali
Selain selamatan, masyarakat Jawa juga mengenal upacara sesajen. Upacara ini berkaitan dengan kepercayaan terhadap makhluk halus. Sesajen diletakkan di tempat-tempat tertentu, seperti di bawah kolong jembatan, di bawah tiang rumah, dan di tempat-tempat yang dianggap keramat. Bahan sesajen berupa : ramuan tiga jenis bunga (kembang telon), kemenyan, uang recehan, dan kue apam. Bahan tersebut ditaruh di dalam besek kecil atau bungkusan daun pisang. Ada pula sesajen yang dibuat pada setiap malam Selasa Kliwon dan Jumat Kliwon yang wujudnya sangat sederhana karena hanya terdiri atas tiga macam bunga yang ditempatkan pada sebuah gelas yang berisi air, bersama sebuah pelita, dan ditempatkan pada sebuah meja. Tujuan menyediakan sesaji tersebut adalah agar roh-roh tidak mengganggu ketenteraman dan keselamatan anggota seisi rumah. Erat kaitannya dengan kepercayaan terhadap makhluk halus ini, ada pula sesaji penyadran agung yang masih tetap diadakan setiap tahun oleh keluarga Keraton Yogyakarta bertepatan dengan hari Maulud Nabi Muhammad SAW yang disebut Grebeg Maulud. Adapun kepercayaan kepada kekuatan sakti (kasakten) banyak ditujukan kepada benda-benda pusaka, keris, alat musik Jawa (gamelan), beberapa jenis burung tertentu (perkutut), kendaraan istana (Kereta Nyai Jimat dan Garuda Yeksa), serta kepada tokoh raksasa Bethara Kala. Banyak aliran kebatinan yang timbul dalam masyarakat sebagai akibat dari sikap orang Jawa yang selalu mengadakan orientasi, yaitu :
a. Gerakan atau aliran kebatinan keuaniyahan, aliran ini percaya adanya anasir-anasir roh halus atau badan halus serta jin-jin.
b. Aliran yang keislam-islaman dengan ajaran-ajaran yang banyak mengambil unsur-unsur keimanan agama Islam seperti soal ketuhanan dan rasul-Nya dengan syarat-syarat yang dibedakan syariat Islam dengan unsur-unsur Hindu-Jawa yang sering bertentangan dengan pelajaran agama Islam.
c. Aliran kehindujawaan yang percaya kepada dewa-dewa agama Hindu dengan nama-nama Hindu.
d. Aliran-aliran yang bersifat mistik dengan usaha manusia untuk mencari kesatuan dengan Tuhan.
BAB IV
PENUTUP
4.1. Kesimpulan
Suku Jawa, salah satu suku bangsa terbesar di Indonesia, dengan jumlah hampir mencapai 100 juta jiwa, dan tersebar bukan hanya di pulau Jawa bagian tengah dan timur, melainkan di berbagai tempat di Indonesia. Sebagai sebuah suku bangsa, suku bangsa Jawa pun memiliki aneka ragam kebudayaan yang beraneka ragam, mulai dari peralatan dan perlengkapan hidup, Jawa memiliki bentuk rumah yang khas, dengan rumah limasan, dan rumah joglonya. Dari sistem ekonomi dan mata pencaharian pun, masyarakat dari suku Jawa memiliki peranan yang cukup penting di negara ini, begitu banyak tokoh-tokoh dari Jawa yang memegang peranan penting di negara ini, baik sebagai pejabat maupun yang duduk di instansi-instansi milik negara. Selanjutnya bahasa, Jawa dikenal sebagai salah satu suku bangsa yang memiliki sistem bahasa yang begitu rumit, begitu banyak tingkatan-tingkatan dan kata-kata berbeda tergantung pada siapa lawan bicara kita, hal ini membuat tidak semua orang dapat memahami bahasa Jawa, bahkan orang-orang dari Jawa sendiri. Di bidang kesenian, Jawa juga dikenal memiliki kesenian yang beraneka ragam, mulai dari seni tari, seni rupa, hingga seni musik, ditambah dengan adanya keraton sebagai pusat seni bagi masyarakat Jawa. Dalam sistem kemasyarakatan Jawa pun, dikenal berbagai pelapisan sosial masyarakat, mulai dari bendara atau orang-orang ningrat, kaum santri, dan juga wong cilik atau golongan rakyat kebanyakan. Terakhir, sistem religi yang unik, dan khas, yang tentu saja berbeda dengan kebudayaan daerah lain. Di Jawa selain masyarakatnya menganut agama-agama besar, seperti islam, katolik, protestan, di pedalaman-pedalaman pun cukup banyak masyarakat yang menganut agama hindu (daerah Tengger) dan Budha. Banyak dari masyarakat Jawa yang menganut suatu kepercayaan asli dari Jawa yaitu agama Kejawen. Kebanyakan penganut kejawen ini, sebenarnya menganut agama islam, namun mereka tidak menjalankan kewajiban-kewajiban sebagai muslim, seperti shalat dan puasa, namun mereka tidak menghindar dari kewajiban berzakkat, sebagai salah satu kewajiban manusia. Mereka pun mengakui adanya Tuhan yang mereka sebut dengan Gusti Allah, dan Nabi yang mereka sebut dengan panggilan Kanjeng Nabi.
4.2. Saran
Dengan mempelajari kebudayaan Jawa ini, saya berharap, agar rekan-rekan dapat mengetahui lebih banyak hal tentang kebudayaan-kebudayaan Jawa, yang selama ini mungkin kurang dikenal masyarakat luas, karena hanya beberapa unsur kebudayaan Jawa saja yang dikenal luas di masyarakat. Dan tentu saja sebagai kewajiban kami untuk memenuhi kewajiban kami dalam mata kuliah kebudayaan Indonesia, semoga banyak manfaat yang dapat dipetik dari makalah yang kami sajikan ini.
DAFTAR PUSTAKA